Guru Pewaris Nubuwah yang Terabaikan

Foto: syarifuddin.net

nunmedia ID – Betapa pun banyak kritik terhadap tugas, kewajiban, dan perjuangan guru, keberadaan dan perannya dalam dunia pendidikan tetap tak tergantikan walau dengan kecanggihan teknologi apa pun dan kapan pun.

Guru adalah aktor penting yang menjadi garda terdepan kemajuan peradaban sebuah bangsa. Peran guru sangat diharapkan mampu membentuk kepribadian, karakter, moralitas, dan kapabiltas intelektual generasi muda. Inilah tugas besar yang diemban, diamanatkan, dan disematkan di pundak seorang guru.

Dari guru seorang murid mengenal ilmu, dari guru seorang murid mengenal akhlak dan moral, dari guru seorang murid mengenal semangat dalam menggapai cita dan harapan, dan dari seorang guru murid mendapat bimbingan kebenaran. Bahkan, tidak sedikit perilaku murid yang mengikuti jejak dan perilaku para gurunya.

Oleh sebab itu, seorang guru tidak cukup hanya sekedar mengandalkan IT, AI, ChatGPT, download sana dan transfer situ, copast materi ini dan share itu. Apalagi semua hanya berupa transfer knowledge (memindah ilmu pengetahuan) dari sisi luarnya saja. Mestinya juga transfer of value (memindah nilai) dari sisi dalamnya. Perpaduan dalam dan luar inilah yang akan mengokohkan bangunan pengetahuan, moral, dan keperibadian murid dalam menyongsong masa depannya. Tidak hanya full waktunya mikir laporan dan kirim video kegiatan.

Baca juga: Perang Melawan Diri Sendiri: Refleksi Hari Kemerdekaan RI

Jika seorang guru hanya bertugas memindahkan ilmu pengetahuan, maka masa depan murid akan terancam. Sebab, moralitas dan integritas mereka rapuh, mudah terombang-ambing oleh arus gelombang modernisasi yang menghalalkan segala macam cara demi memuaskan nafsu hedonism.

Namun, apabila seorang guru hanya memindah nilai saja tanpa mentrasfer keilmuan yang memadai, mereka terancam pada gelombang salju dan tembok tebal kemiskinan, pengangguran, dan keterbelakangan. Keduanya penting, dan harus berjalan seiring dan berkelindan, tidak boleh ada yang dimarginalkan antara satu dan yang lainnya.

Perlu disadari, bahwa seorang guru tidak boleh hanya berpikir jangka pendek terhadap muridnya, artinya hanya sekedar memberikan pengajaran, tanpa peduli terhadap perubahan sikap, perilaku, dan moralitas anak didiknya, maka dari perlu ditanamkan dalam jiwa seorang guru untuk memperbaiki moralitas anak didiknya secara komprehensif.

Seorang guru tidak boleh melempar tanggung jawabnya dengan berbagai alasan dan argumentasi yang absurd dan klise. Seperti, mengatakan “itu bukan tanggung jawab saya, itu tanggung jawab kepala sekolah” atau “itu tanggung jawab guru agama”, atau “itu tanggung jawab pengawas sekolah” dan kalimat-kalimat lain yang tidak solutif.

Konsep sistem pendidikan Indonesia yang berorientasi untuk menjadikan warganya mampu mengatasi problem dirinya, berbicara dan menjawab berbagai masalah bangsanya, butuh sentuhan guru yang bertangan dingin dan profesional. Sosok guru ini sangat dinanti untuk melahirkan kader-kader pengubah sejarah baru demi masa depan dan peradaban bangsa ini.

Jika seorang guru mengajar hanya untuk mengejar kebutuhan finansial, maka ia akan sulit melahirkan kader pengubah sejarah yang membutuhkan kerja keras, pengorbanan, dan perjuangan besar. Kalau semuanya diukur dengan meteri, maka orientasi keilmuan dan masa depan bangsa menjadi kabur.

Lepas dari persoalan finansial yang menjadi kebutuhan setiap manusia, ketulusan guru dalam mendidik dan mengantarkan anak didik menggapai cita-cita luhur adalah karya terbesarnya yang akan diabadikan sejarah.

Masyarakat akan melihat dan memantau sikap prilaku seorang guru. Apabila sikap dan prilakunya bisa menjadi cermin bagi anak didiknya, maka masyarakat akan semakin menghormati dan mencintainya. Namun, jika tidak, maka tidak menutup kemungkinan, masyarakat akan merendahkan dan meremehkannya.

Seorang guru dituntut mampu menjadi teladan yang baik bagi anak didiknya, karena guru adalah seorang yang digugu dan ditiru (ucapannya dipercaya dan prilakunya dicontoh), maka sangat tidak berlebihan jika dikatakan seorang guru adalah pahlawan bangsa, hal ini karena jasanya yang begitu besar dalam mengantarkan anak didiknya untuk menjadi generasi bangsa yang berilmu dan beradab yang siap memajukan bangsa dan menjadi generasi yang membanggakan di masa depan.

Baca juga: Kita Juga Sebagai Ibrahim dan Memiliki Ismail

Untuk menjadi teladan bagi para murid dan masyarakat bukanlah perkara yang mudah. Banyak indikator tingkah laku yang harus ditunjukkan dalam sikap dan perkataan, baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Meski tidak mudah, bukan berarti mustahil untuk dilakukan. Untuk itu, setiap guru penting untuk senantiasa berupaya menjadi teladan bagi setiap muridnya, sehingga keteladanan yang diberikan akan mampu membawa perubahan yang berarti bagi anak didik dan juga bagi sekolah tempat ia mengabdikan ilmu.

Akhirnya, semua tugas dan perilaku guru akan mengalir ke dalam setiap pribadi muridnya. Bahkan, terus mengalir tak kenal henti pada kehidupan umat sekitarnya. Begitu seterusnya, benar-benar bagaikan nabi yang ajarannya dilanjutkan oleh para ulama’ pewarisnya. Dengan demikian, aktivitas guru yang benar dan menjadi uswah hasanah (digugu dan ditiru) para muridnya merupakan ibadah jariyah yang pahalanya mengalir terus tak terputus.

Dari Abu Hurairah Ra, ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631).

Semoga semua guru yang masih aktif sehat wal'afiat, barokalloh, dan yang sudah purna tugas selalu diberkahi oleh Allah Swt. Aamiin. Wallahu A'lamu bi Al-Shawab.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *