nunmedia ID – Aneh mungkin kedengarannya, jika ada orang mengatakan bahwa ibadah apalagi sambil berpuasa dianggap sebagai suatu kenikmatan. Sebab secara logika, kondisi fisik yang lagi lapar, lemah, dan lemas, tidak mungkin seseorang bisa bergairah dan bersemangat, apalagi merasa nikmat beribadah.
Itulah memang rahasia yang harus dicari dan ditemukan oleh orang beriman yang lagi berpuasa.
Orang sering tidak menyadari bahwa kenikmatan bukan hanya jika telah memiliki segala dan menikmati apa saja yang diingini. Malah sering tidak terpikir, seseorang justru akan sangat bisa merasakan ketika lebih dulu tertahan dan harus bersabar untuk memiliki dan menikmati yang diingini.
Baca Juga : Kenapa Harus Malam ? Waktu yang Diistimewakan!
Banyak bukti empiris menunjukkan bahwa suatu kenikmatan yang didapat tanpa susah payah menjadi hambar tak terasa nikmat, boro-boro mensyukurinya. Akibatnya, tumbuh sikap kufur nikmat, nafsu jahat, dan berani melanggar maksiat.
Bukankah sejarah insan telah membuktikan bahwa Bapak kita Adam dan Ibu Hawa sejak awal diciptakan langsung digerojok nikmat dengan berbagai fasilitas surga? Hanya satu yang dicegah oleh Allah Swt. untuk memakannya, bahkan mendekati pohonnya saja tidak diizinkan-Nya.
وَقُلْنَا يٰٓاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا ۖ وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ ﴿البقرة : ۳۵﴾
Dan Kami (Allah) berfirman, “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zhalim!” (QS. Al-Baqarah: 35).
Baca juga : Tuntunan Lengkap Shalat Sunnah dan Dzikir Malam Lailatul Qadar
Ternyata ketika nikmat surga itu diberikan secara otomatis, instan, tanpa melalui proses, usaha, dan bersabar untuk memperolehnya, berbagai fasilitas dan kenikmatan seistimewa surga sakalipun tak mampu dirasakan oleh beliau berdua.
Malah semua fasilitas dan nikmat surga yang ada seolah tertutup dan tak bisa dirasa. Justru beliau berdua penasaran pada satu larangan yang kemudian tak dapat membendung nafsu keinginannya, akhirnya terjadilah perbuatan dholim atau maksiat.
Selanjutnya, Nabi Adam dan Ibu hawa, serta semua keturunannya harus turun ke dunia untuk mengenal usaha, proses, payah, lapar, sabar, taat, ibadah, dan sebagainya
Maka, berpuasa merupakan salah satu ibadah agar manusia berusaha menahan diri dari apapun yang dilarang, meski halal dan miliknya sendiri demi taat kepada yang Maha Memiliki dan Memberi.
Baca Juga : Menelisik Lailatul Qadar dan Kisah Nabi Muhammad Saw. Urung Membocorkan Waktu Pasti Lailatul Qadar
Dengan cara inilah, seseorang akan bisa membersihkan diri dari apapun yang mengotori. Dan puncaknya adalah supaya ia menjadi hamba yang fitri, cocok dengan harapan Ilahi, dan berhak mennyandang gelar insan yang muttaqin.
يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al-Baqarah: 183).
Baca Juga : Momentum Nuzul Al-Qur’an Sebagai Panggilan Allah Swt. Untuk Manusia Kembali ke Surga
Dalam kondisi sehari-hari, orang yang berpuasa pasti bisa merasakan betapa nikmatnya ketika berbuka setelah seharian menahan diri dari makan, minum, dan apa saja yang membatalkan puasa. Ini membuktikan bahwa nikmatnya makan sangat ditentukan susah payah menahan lapar dan dahaga.
Nikmatnya tidur dan istirahat ternyata bukan ditentukan oleh fasilitas tempatnya, tetapi terutama ditentukan oleh payah dan kantuk orang bersangkutan.
Seandainya tidak disertai kondisi payah dan juga tidak kantuk, seseorang memaksakan diri untuk tidur, pasti sulit merasakan nikmatnya tidur. Justru, tidur dan istirahat orang tersebut akan menjadi sumber kepayahan dirinya.
والله اعلم بالصواب
Semoga puasa kita menjadi ibadah yang nikmat dan mendapat ridlo Allah Swt. امين
Follow Me : Instagram






